Sabtu, 20 Juni 2009

Keep Fight Ukhti

Terima kasih ustadzah...
Engkau telah memberi banyak ilmu pada kami...
Tawadhu' dan
Indah tutur katanya....

Ustadzah Teti... selamat berjuang saudariku
***

bRown warna kesukaannya
krItis
ciRi khasnya, itu pasti
Ibunda
husNa

Ustadzah Ririn...tetap semangat ya...!
***
Mbak Lia selamat menjalankan amanah dakwah di daerah yang baru. Semoga Alloh SWT memberi kemudahan


Senin, 25 Mei 2009

Si Buyung & Si Upik

Mengapa ya, menurut pengamatan saya. anak laki-laki lebih lambat dalam penuntasan tugas perkembangan motorik halus daripada anak perempuan. Saya mengamati di kelas satu, semua anak yang belum tuntas motorik halusnya adalah anak laki-laki. Padahal dalam hal motorik kasar, mereka jagonya. Menurut Kavale & Matson perkembangan motorik halus juga dipengaruhi oleh perkembangan motorik kasar. Sehingga anak yang mempunyai motorik kasar yang bagus diharapkan motorik halusnya juga demikian.

Apa benar bahwa Si Upik lebih terampil motorik halusnya daripada Si Buyung? atau pola asuh orangtua yang memengaruhi??

Biasanya anak laki-laki cenderung "dibebaskan" dalam berbuat sesuatu seperti memanjat, berlarian, melompat dll. sehingga motorik kasarnya terasah. Beda dengan anak perempuan yang lebih "halus" dalam mengerjakan sesuatu sehingga lebih terampil dalam motorik halus (penggunaan tangan).

Senin, 04 Mei 2009

Jangan Dibaca

Lho kog masih dibaca juga...
mungkin itu merupakan salah satu diantara efek dari larangan/bahasa negatif yang sering kita gunakan.Suatu ketika, saya meminta tolong kepada salah satu teman untuk menyimpan sebuah dokumen penting. Saya memberi pesan agar dokumen saya jangan dihilangkan. Tapi apa yang tejadi kemudian. Ya benar, ternyata dokumen saya dihilangkan, yang artinya berkebalikan dengan pesan saya. Mungkin kejadian tersebut tidak terjadi jika saya menggunakan kata Ustadzah tolong disimpan yaa..

Mungkin anak-anak kita juga begitu, ketika kita melarangnya anak-anak justru melakukan hal yang kita larang tersebut. Sebagai contoh larangan untuk tidak berlari di koridor sekolah, sering sekali saya temui teguran dengan bahasa jangan berlari. Tapi anak-anak masih saja menghiraukan teguran tersebut. Mungkin efektif jika menggunakan ajakan untuk berjalan di koridor.wallohu a'lam

Semoga kita bisa mengubah kebiasaan melarang menggunakan bahasa negatif dengan kebiasaan ajakan menggunakan bahasa positif.

Buat Aisyah: Semoga Alloh memberi kesembuhan dan kesehatan.

Rabu, 08 April 2009

Hukuman Vs Konsekwensi logis

Seorang Ibu dengan mata berkaca-kaca bercerita kepada saya. Beliau menceritakan anaknya yang tidak mau sekolah setelah mendapat hukuman dari gurunya.

Saya berpikir, sudah tidak zaman lagi menghukum siswa dengan berdiri didepan kelas. Ternyata hukuman yang tidak mendidik tersebut masih ada (tentunya bukan di SIT).

Anak-anak adalah makhluk-Nya yang dikaruniai jasad, fikriyah dan ruhiyah. Mereka bukan mesin atau robot yang bisa diperlakukan seenaknya. Saya teringat taujih Ustadz Masruri, beliau berpesan jangan mudah menghukum anak. Karena ada tahapan-tahapan yang harus dilakukan sebelum mengambil tindakan untuk menghukum. Tahapan tersebut adalah CoPeTecelaanHu. Contoh, Sudahkah kita menjadi suri tauladan bagi anak-anak?. Perintah, jika sudah memberi teladan, bolehlah untuk memerintah. Teguran diberikan jika anak belum mematuhi perintah, selanjutnya adalah Celaan yang tidak menyakitkan hati dan terakhir adalah Hukuman atau lebih tepatnya Konsekwensi logis.

Ada perbedaan mendasar antara hukuman dan konsekwensi logis.
Berikut perbedaannya:
Hukuman :
  1. Suatu tindakan penghukuman
  2. Orang dewasa memegang kekuasaan dan memutuskan benar tidaknya suatu hal
  3. Menunjukkan kekuasaan dan otoritas pribadi
  4. Tidak mengenal keadilan dan kejujuran
  5. Suara keras, melengking dan menjengkelkan
  6. Merupakan justifikasi dari seluruh kepribadian anak
  7. Si anak tidak mendapat pengakuan
Sedangkan,
Konsekwensi Logis :
  1. Merupakan proses pembelajaran bagi Anak
  2. Orang dewasa berperan sebagai pendidik
  3. Menjelaskan perlunya ketertiban, bukan melukiskan rendahnya seseorang
  4. Tegas, adil dan jujur
  5. Suara terdengar ramah dan tenang
  6. Membuat garis tengah antara tindakan dan pelakunya
  7. Si anak mendapat pengakuan meskipun sikapnya tidak dapat diterima
Semoga kita menjalankan amanah dari Alloh dengan sebaik-baiknya dan semoga kita bukanlah guru penghukum. Amiin

Sabtu, 28 Maret 2009

Matematika

Pakar psikologi perkembangan berpendapat bahwa usia 6-12 tahun merupakan tahap belajar anak mengenai hal-hal yang konkrit. Sedangkan matematika adalah mata pelajaran yang abstrak bagi anak seusia itu. Tugas kita (guru) untuk mengkonkritkan sebuah konsep dari matematika.

Saya terinspirasi dari majalah Guru yang diterbitkan oleh KPI (Kualita Pendidikan Indonesia). Majalah tersebut mengulas bagaimana mengajar matematika yang menyenangkan sehingga anak-anak menemukan sendiri konsep yang dipelajari. Salah satunya belajar pecahan, mengenal pecahan 1/2, 1/4 dan lain-lain.Siswa diminta membawa roti tawar dan selai kemudian Guru memberikan masalah yang harus dipecahkan menggunakan konsep pecahan seperti: kalian mempunyai satu roti sedangkan satu teman kalian menginginkan roti tawar yang ada selainya, bagaimana cara kalian membagi roti tersebut dengan adil.Selain mengajarkan konsep pecahan, kita juga mendidik pesan/nilai keadilan pada siswa.

Siswa akan berpikir caranya, tidak jarang kita menemui anak yang masih bingung dengan pemecahnnya. banyak pula Siswa yang dapat memecahkan masalah tersebut dengan mudah. setelah itu dapat kita tanyakan kepada siswa berapa bagian yang mereka peroleh. insya Alloh konsep mengenal pecahan akan lebih mudah dipahami oleh siswa. semoga...

Kamis, 26 Maret 2009

Maafkan Bunda.....

Selalu saja ada tingkah laku baru yang ditunjukkan Mbak Aisyah kepadaku. lebih-lebih ketika aku pulang dari sekolah. Suatu saat kulihat dia sedang tengkurap sendiri, lalu kuberitahukan hal tersebut ke Mbah utinya. Mbah uti bilang kalau Mbak Aisyah sejak tadi pagi bisa tengkurap sendiri. wah jadi sedih nih, lho kok???iya, pasalnya Bunda ingin sekali menjadi orang yang pertama melihat tumbuh kembang Mbak Aisyah. maafkan bunda yaaaaa

Rabu, 25 Maret 2009

Dari Saya

Alhamdulillah, meski belum sempurna akhirnya blog ini tampil juga. Blog ini kami persembahkan buat siapa saja yang peduli terhadap pendidikan, khususnya pendidikan dasar.